I.
KEKUASAAN
A. DEFINISI
KEKUASAAN
Kekuasaan
adalah kewenangan yang didapatkan oleh seseorang atau kelompok guna menjalankan
kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan, kewenangan tidak
boleh dijalankan melebihi kewenangan yang diperoleh atau kemampuan seseorang
atau kelompok untuk memengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain.
Beberapa ahli yang telah
menyatakan definisi-definisi dari kekuasaan. Yang meliputi:
MAX
WEBER
Dia merumuskan
kekuasaan itu sebagai suatu kemungkinan yang membuat seorang aktor di dalam
suatu hubungan sosial berada dalam suatu jabatan untuk melaksanakan
keinginannya sendiri dan yang menghilangkan halangan.
WALTER
NORD
Merumuskan
kekuasaan itu sebagai suatu kemampuan untuk mempengaruhi aliran, energi dan
dana yang tersedia untuk mencapai suatu tujuan yang berbeda secara jelas dari
tujuan lainnya. Kekuasaan dipergunakan hanya jika tujuan-tujuan tersebut paling
sedikit mengakibatkan perselisihan satu sama lain.
ROGERS
Berusaha membuat
jelas kekaburan istilah dengan merumuskan kekuasaan sebagai suatu potensi dari
suatu pengaruh. Dengan demikian kekuasaan adalah suatu sumber yang bisa atau
tidak bisa untuk dipergunakan. Penggunaan kekuasaan selalu mengakibatkan
perubahan dalam kemungkinan bahwa seseorang atau kelompok akan mengangkat suatu
perubahan perilaku yang diinginkan.
B.
BENTUK-BENTUK KEKUASAAN MENURUT
FRENCH & RAVEN
1. Coercive Power (Kuasa Paksaan)
Coercive Power adalah
kemampuan untuk menghukum atau memperlakukan seseorang yang tidak melakukan
permintaan atau perintah. Diperoleh dari salah satu kapasitas untuk membagikan
punishment pada mereka yang tidak mematuhi permintaan atau perintah. Kekuasaan
ini juga bisa dibilang kekuasaan karena rasa takut oleh seseorang yang memiliki
kuasa dalam suatu hal. Karena hal itulah orang-orang yang menjadi bawahan atau
pengikutnya, menjadi tunduk dan mau untuk melakukan perintah yang diberikan
oleh orang yg berkuasa itu. Karena jika mereka tidak mengikuti apa yang
diperintahkan, maka bawahan/pengkutnya tersebut akan mendapatkan sebuah
hukuman. Contoh dari Coercive power adalah : misal, seorang atasan memberikan
pemotongan gaji terhadap karyawan/bawahannya, karena bawahaanya tersebut telah
melanggar peraturan perusahaan, bahkan jika kesalahan bawahannya tersebut
fatal, maka si atasan akan melakukan pemecatan terhadapnya, atau seorang guru
memberikan hukuman terhadap siswanya, dengan memberikan tugas yang banyak.
Menurut Molm, 1987,1988 Seseorang juga
menggunakan Coersive untuk mempengaruhi anggota grup lain, walaupun kebanyakan
orang lebih memilih untuk menggunakan reward power daripada coersive power jika
keduanya tersedia.
2. Insentif Power (Reward
Power)
Reward power adalah suatu sikap yang patuh /tunduk yang
dicapai berdasarkan kepatuhan/kemampuan untuk memberikan reward (imbalan) agar
dipandang orang lain berharga, Seseorang akan patuh terhadap orang lain, jika
dijanjikan akan diberikan sebuah imbalan yang sesuai dengan prestasinya. Selain
itu reward power juda bisa diartikan kemampuan dalam mengontrol distribusi
dalam pemberian reward atau menawarkan pada grup lainnya. Contoh dari Reward Power adalah bisa
dalam bentuk : Bintang emas untuk murid, gaji untuk karyawan, persetujuan
sosial untuk subyek dalam eksperimen, positif feed back untuk karyawan, makanan
untuk orang kelaparan, kebebasan untuk narapidana, dan bahkan bunuh diri untuk
yang merasa hidupnya tersiksa.
3. Legitimate Power (Kuasa yang sah)
Legitimate power adalah Pemimpin
memperoleh hak dari pemegang kekuatan untuk memerlukan dan menuntut ketaatan.
Seseorang yang telah memiliki legitimate power, akan menuntut bawahan atau
pengikutnya untuk selalu taat pada peraturannya. Karena legitimate power
memiliki definisi lain, yaitu kekuatan yang bersumber dari otoritas yang dapat
dipertimbangkan hak untuk memerlukan dan pemenuhan perintah. Contoh daro
Legitimate Power adalah : Pegawai polisi mengatakan penonton untuk pindah jika
berada dalam suatu konser/pertunjukan musik, dosen menunggu isi kelas diam dan
tenang sebelum mengajarkan materinya.
4. Expert power (Kekuasaan Pakar)
Pengaruh
berdasar pada kepercayaan target bahwa pemegang kekuatan memiliki keahlian dan
kemampuan yang superior dalam bidangnya. Seseorang yang memang ahli dalam
bidangnya, akan mudah untuk menguasai/ mempengaruhi orang lain.Para anggota
dalam suatu kelompok, pasti memiliki skill dan kemampuan yang berbeda. Maka
dari itulah, suatu kelompok tercipata untuk saling melengkapi kekurangan
anggota kelompki lainnya. Namun pada dasarnya, French dan Raven seseorang tidak
perlu menjadi ahli untuk mendapatkan kekuatan ahli. Orang tersebut hanya perlu
diterima oleh orang lain sebagai seorang yang ahli (Kapolwitz,1978; Littlepage
& Mueller,1997). Sebenarnya, seseorang tidak harus memaksakan diri untuk
menjadi seseorang yang ahli. Karena, sebenarnya kemampuan apapun yang kita
miliki, tidak hanya kita yang menilai, tapi kita pun perlu penilaian dari orang
lain. Contoh dari expert power adalah : seorang pasien percaya pada hasil
diagnose dokter atas pentakit yang dideritanya, seseorang percaya pada seorang
ilmuwan pada bidang, karena ilmuwan tersebut telah membuktikan hasil
penelitiaanya.
5. Referent Power (Kekuasaan Rujukan)
Pengaruh yang didasarkan pada pemilikan sumber daya atau
ciri pribadi yang diinginkan oleh seseorang, berkembang dari rasa kagum
terhadap orang lain, untuk menjadi seperti orang yang dikaguminya itu,
dikarenakan adanya karisma. Selain itu, Referent power juga menjelaskan
bagaimana charismatic leader (seberapa tinggi komitmen anggota tersebut pada
kelompoknya) mengatur untuk menggunakan banyak kontrol dalam grup mereka.
Siapakah anggota yang paling baik, paling disukai, paling dihargai dsb. Contoh
dari referent power adalah : Misalnya seorang pengikut dalam suatu kelompok,
sangat mengagumi ketua kelompoknya, karena ketua kelompoknya tersebut memiliki
pribadi yang kompeten, baik hati, bersikap mengayomi kepada semua pengikutnya,
dan tidak pernah bersikap otoriter.
II.
LEADERSHIP
A.
DEFINISI LEADERSHIP
Kepemimpinan adalah proses
memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari
kepemimpinan adalah "melakukannya dalam kerja" dengan praktik seperti
pemagangan pada seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan
ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan
pengajaran/instruksi.
B. TEORI
KEPEMIMPINAN PARTISIPATIF
a.
Teori
X dan Teori Y dari Douglas McGregor
Teori prilaku adalah teori yang
menjelaskan bahwa suatu perilaku tertentu dapat membedakan pemimpin dan bukan
pemimpin pada orang-orang. Konsep teori X dan Y dikemukakan oleh Douglas
McGregor dalam buku The Human Side Enterprise di mana para manajer / pemimpin
organisasi perusahaan memiliki dua jenis pandangan terhadap para pegawai /
karyawan yaitu teori x atau teori y.
Teori X
Teori ini menyatakan bahwa pada
dasarnya manusia adalah makhluk pemalas yang tidak suka bekerja serta senang
menghindar dari pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pekerja
memiliki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan perusahaan namun menginginkan
balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Dalam bekerja para pekerja harus
terus diawasi, diancam serta diarahkan agar dapat bekerja sesuai dengan yang
diinginkan perusahaan.
Teori X memberikan petuah manajer
harus memberikan pengawasan yang ketat, tugas-tugas yang jelas, dan menetapkan
imbalan atau hukuman. Hal tersebut, karena manusia lebih suka diawasi daripada
bebas, segan bertanggung jawab, malas dan ingin aman saja, motivasi utamanya
memperoleh uang dan takut sanksi.
Contoh individu dengan teori X :
pekerja bangunan.
– Keuntungan Teori X :
Karyawan bekerja untuk
memaksimalkan kebutuhan pribadi.
– Kelemahan Teori X :
a. Karyawan malas,
b. Berperasaan irrasional,
c. Tidak mampu mengendalikan diri
dan disiplin.
Teori Y
Teori Y memiliki anggapan bahwa
kerja adalah kodrat manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari lainnya.
Individu yang berperilaku teori Y mempunyai sifat : suka bekerja, commit pada
pekerjaan, suka mengambil tanggung jawab, suka memimpin, biasanya orang pintar.
Contoh orang dengan teori Y :
manajer yang berorientasi pada kinerja.
– Keuntungan teori Y :
a. Pekerja menunjukkan kemampuan
pengaturan diri,
b. Tanggung jawab,
c. Inisiatif tinggi,
d. Pekerja akan lebih
memotivasi diri dari kebutuhan pekerjaan.
– Kelemahan Teori Y :
Apresiasi
diri akan terhambat berkembang karena karyawan tidak selalu menuntut kepada
perusahaan
b.
Teori
Sistem 4 dari Rensis Linkert
– Asumsi dasar
Bila seseorang memperhatikan dan
memelihara pekerjanya dengan baik maka operasional organisasi akan membaik. Fungsi-fungsi
manajemen berlangsung dalam empat system:
1.
Sistem pertama (exploitive authoritative)
Sistem yang penuh tekanan dan
otoriter dimana segala sesuatu diperintahkan dengan tangan besi dan tidak
memerlukan umpan balik. Pemimpin sangat otokratis, mempunyai sedikit
kepercayaan kepada bawahan, suka mengekplotasi bawahan, bersikap paternalistik
memotivasi dengan memberi ketakutan dan hukuman-hukuman, diselang seling
pemberian penghargaan yang secara kebetulan (occasional reward),
hanya mau memperhatikan pada komunikasi yang turun ke bawah, dan hanya
membatasi proses pengambilan keputusan di tingkat atas.
2.
Sistem kedua (benevolent authoritative/otokrasi yang baik hati)
Sistem yang lebih lunak dan
otoriter dimana manajer lebih sensitive terhadap kebutuhan karyawan. Mempunyai
kepercayaan yang berselubung, percaya pada bawahan, mau memotivasi dengan
hadiah-hadiah dan ketakutan berikut hukuman-hukuman, memperbolehkan adanya
komunikasi ke atas, mendengarkan pendapat-pendapat, ide-ide dari bawahan, dan
memperbolehkan adanya delegasi wewenang dalam proses keputusan, bawahan merasa
tidak bebas untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaannya
dengan atasan.
3.
Sistem
ketiga (manajer konsultatif)
Sistem konsultatif dimana
pimpinan mencari masukan dari karyawan. Mempunyai sedikit kepercayaan pada
bawahan, biasanya dalam perkara kalau ia memerlukan informasi, ide atau
pendapat bawahan; masih menginginkan melakukan pengendalian atas
keputusan-keputusan yang dibuatnya; mau melakukan motivasi dengan penghargaan
dan hukuman yang kebetulan; dan juga berkehendak melakukan partisipasi;
menetapkan dua pola hubungan komunikasi, iaitu ke atas dan ke bawah; membuat
keputusan dan kebijakan yang luas pada tingkat bawah; bawahan merasa sedikit
bebas untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaan bersama
atasan.
4.
Sistem keempat (partisipative group/kelompok partisipatif)
Sistem partisipan dimana pekerja
berpartisipasi aktif dalam membuat keputusan. Mempunyai kepercayaan yang sempurna
terhadap bawahan; dalam setiap persoalan selalu mengandalkan untuk mendapatkan
ide-ide dan pendapat-pendapat lainnya dari bawahan, dan mempunyai niatan untuk
mempergunakan pendapat bawahan secara konstruktif; memberikan penghargaan yang
bersifat ekonomis dengan berdasarkan partisipasi kelompok dan keterlibatannya
pada setiap urusan terutama dalam penentuan tujuan bersama dan penilaian
kemajuan pencapaian tujuan tersebut; mendorong bawahan untuk ikut bertanggung
jawab membuat keputusan, dan juga melaksanakan keputusan tersebut dengan
tanggung jawab yang besar; bawahan merasa secara mutlak mendapat kebebasan
c. Theori of friendship choice Tannenbaun
dan Warren H.Schmidt.
Tannenbaun dan Schmidt dalam
Hersey dan Blanchard (1994) berpendapat bahwa pimpinan mempengaruhi pengikutnya
melalui beberapa cara, yaitu dari cara yang menonjolkan sisi ekstrim yang
disebut dengan perilaku otokratis sampai dengan cara yang menonjolkan sisi
ekstrim lainnya yang disebut dengan perilaku demokratis.
Perilaku otokratis, pada umumnya
dinilai bersifat negative, dimana sumber kuasa atau wewenang berasal dari
adanya pengaruh pimpinan.
Perilaku demokratis, perilaku
kepemimpinan ini memperoleh sumber kuasa atau wewenang yang berawal dari
bawahan.
Menurut teori Continuum ada tujuh
tingkatan hubungan pemimpin dengan bawahan:
1. Pemimpin membuat dan
mengumumkan keputusan terhadap bawahan (telling).
2. Pemimpin menjualkan dan
menawarkan keputusan terhadap bawahan (selling).
3. Pemimpin menyampaikan ide dan
mengundang pertanyaan.
4. Pemimpin memberiakn keputusan
tentative dan keputusan masih dapat diubah.
5. Pemimpin memberikan
problem dan meminta sarang pemecahannya kepada bawahan (consulting).
6. Pemimpin menentukan
batasan-batasan dan minta kelompok untuk membuat keputusan.
7. Pemimpin mengizinkan bawahan
berfungsi dalam batas-batas yang ditentukan (joining).
C.
TEORI KEPEMIMPINAN DAN KONSEP
CHOICE APPROACH TO PARTICIPATION (Vroom&Yetton)
Menurut teori ini gaya
kepemimpinan yang tepat ditentukan oleh corak persoalan yang dihadapi oleh
macam keputusan yang harus diambil. Model teori ini dapat digunakan untuk:
• Membantu mengenali berbagai
jenis situasi pemecahan persoalan secara berkelompok (group problem solving
situation).
• Menyarankan gaya kepemimpinan
mana yang dianggap layak untuk setiap situasi. Ada tiga perangkat parameter
yang penting yaitu klasifikasi gaya kepemimpinan, kriteria efektifitas
keputusan, Kriteria penemukenalan jenis pemecahan persoalan. Misalnya seorang
dokter yang mengambil keputusan untuk melakukan operasi terhadap pasien yang
mengalami kecelakaan tanpa dia harus berkonsultasi terlebih dahulu terhadap
staf-stafnya dengan menggunakan informasi yang pada waktu itu diketahuinya. Dari
sini dapat dilihat bahwa gaya pengambilan keputusan yang diambil oleh dokter tersebut
merupakan gaya pengambilan keputusan A-1 yang dilakukan oleh seorang pemimpin
yang dimana dia mengambil keputusannya sendiri dalam memecahkan persoalan
dengan menggunakan informasi yang pada waktu itu diketahuinya.
D.
Teori
Kepemimpinan Contingensi of Leadhership (Fiedler)
Model ini menyatakan bahwa
keefektifan suatu kelompok bergantung pada:
• Hubungan dan interaksi pemimpin dan bawahannya
• Hubungan dan interaksi pemimpin dan bawahannya
• Sejauh mana pemimpin
mengendalikan dan mempengaruhi suatu situasi.
Dalam hal yang pertama dapat
dinilai dengan kuisoner LPC (Least Prepered Coworker)
•Jika skor LPC tinggi, maka
pemimpin berorientasi pada hubungan
•Jika skor LPC rendah, maka pemimpin
berorientasi pada tugas.
Misalnya di dalam lingkungan
bermasyarakat ketua RT setiap minggunya mengajak masyarakatnya untuk melakukan
kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar. Dimana kerja bakti tersebut
diadakan agar mempererat hubungan antara ketua RT dengan warganya dan warga dengan
sesama warga yang lain. Dalam kerja bakti tersebut ketua RT membimbing warganya
untuk sama-sama bekerjasama dan dari kegiatan tersebut dapat diperoleh suatu
manfaat agar ketua RT dapat mengenal warga lebih jauh dan menumbuhkan rasa
kepedulian terhadap sesama.Tujuan ketua RT bukan hanya untuk menjadikan kampungnya
bersih,tetapi lebih kepada mempererat hubungan interpersonal diantara mereka. Dari
sini dapat dilihat bahwa ketua RT tersebut memilik skor LPC yang tinggi. Karena
dia lebih berfokus pada hubungan dengan warganya.
E.
TEORI KEPEMIMPINAN PATH GOAL
THEORY
Model path-goal menganjurkan bahwa
kepemimpinan terdiri dari dua fungsi dasar:
•Fungsi pertama memberi kejelasan
alur.
•Fungsi kedua adalah meningkatkan
jumlah hasil (reward) bawahannya. Misalnya didarerah kalideres ada yang
mengadakan arisan peket sembako, dimana ketua arisan paket sembako setiap tiga
bulan sekali mengadakan rapat dengan para kordinator untuk meningkatkan kinerja
kordinator. Didalam rapat tersebut para kordinator memberikan saran untuk
memperbaiki hasil dari isi paket sembako tersebut, mengadakan hiburan setiap
dua bulan sekali,dan ketua arisannya juga berkonsultasi kepada mereka dalam
pengelolahan keuangan dari arisan tersebut. Diatas merupakan contoh dari
kepemimpinan partisipatif (participative leadership), dimana pemimpinnya
berkonsultasi dengan bawahan dan mengambil saran-saran dan ide mereka.
Kepemimpinan partisipatif dapat meningkatkan motivasi kerja bawahan.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.pdf-search-engine.com
Nortcraft GB and Neale MA., 1990 Organizational Behavior: A Management Challenge, The Dryden Press, Rinehart & Winston Inc.
Nortcraft GB and Neale MA., 1990 Organizational Behavior: A Management Challenge, The Dryden Press, Rinehart & Winston Inc.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar